Minggu, 18 Agustus 2019

Fenomena Hijrah dan Godaannya

HIJRAH LAHIR BATHIN
Mewaspadai Penyakit Hati dalam Berhijrah



Bismillahirrahmanirrahim

Belakangan ini Hijrah menjadi tren di berbagai kalangan baik itu publik figur, umum, tua dan muda serta menjadi gerakan yang aktif  di kehidupan nyata maupun di media sosial.  Ini adalah suatu hal positif yang musti di syukuri dan patut disambut dengan baik.

Hijrah adalah berpindah dari keadaan yang semula buruk / kurang baik menjadi keadaan yang lebih baik, dari kondisi yang sudah baik menjadi kondisi yang lebih baik.
Namun dalam fenomena sekarang ini hijrah lebih di pahami sebagai pengenalan agama yang lebih dekat dan mendalam  dari sebelumnya yang di rasa kurang atau jauh.

 



Perlu di garis bawahi bahwa sejatinya Hijrah itu bukan hanya lahirnya saja akan tetapi juga bathinnya yang juga tak kalah penting.

Jika lahirnya sulit di goda maka hatinya yang dibuat rusak begitulah tipu muslihat syetan dan hawa nafsu. Seolah-olah syetan membiarkan ibadah kita bahkan menambahkan semangat yang berlebihan dalam amal ibadah kita namun tujuannya agar kita tidak merasa sudah keluar jalur dari jalan yang di ridhoi Allah subhanahu wata’ala,

Maka dari itu agar seorang Muhajir ( Ahli Hijrah ) senantiasa mawas diri serta amal ibadahnya senantiasa ada dalam ridho Allah subhanahu wata’ala, kenalilah potensi-potensi tipu daya syetan dan hawa nafsu setelah berhijrah tersebut seperti :

Merasa lebih sholeh dari orang lain
Merasa lebih berilmu/ lebih ngerti agama dari orang lain
Ingin terlihat sebagai orang sholeh
Ingin terlihat paham agama
Ingin terlihat sudah hijrah

Implikasi nya adalah pada perilaku seperti :

Senang membanggakan amal ibadah sendiri
Senang mengkritik cara ibadah / amalan orang lain, mencari kekurangan ibadah orang lain.
Terlalu bersemangat dalam mencari ilmu dan berdakwah hingga mengabaikan adab dan hakekat ilmu dan dakwah itu sendiri
Transformasi bahasa/istilah arab yang “dipaksakan” dan tidak tersampaikannya maksud serta tujuannya
Menonjolkan dan membanggakan cara ibadah dan penampilan yang berbeda.
dll

Ulama katakan “man katsuru ilmuhu, qalla inkaruhu”
(siapa yang banyak ilmunya, ia sedikit mengingkari)
Sedikit Ilmu, Banyak Melarangnya. Banyak Ilmu banyak diamnya.


Maksudnya ialah orang yang punya banyak ilmu, ia akan sedikit untuk menginkari / mengkritisi, menentang apa yang dilakukan oleh orang lain.

Tidak asal menyalahkan ketika melihat –menurut pandangannya- ada yang keliru, Tapi di teliti dulu dipelajari dahulu.

Begitu juga, makin banyak pengetahun seseorang tentang syariah dan perbedaan fiqih , ia akan jauh lebih bijak dalam bicaranya atau dakwahnya.

Ia tidak akan langsung memvonis salah atau bid’ah (Dholalah) ketika melihat ada yang berbeda, karena ia tahu bahwa dalam satu masalah, bukan hanya ada satu pandangan/pendapat saja, tapi ada juga pandangan lain dari ulama lainnya.


Kebenaran itu tidak hanya / harus satu jalan tapi bisa melalui dari banyak jalan.

Dalam Kitab Imam Ghazali dikatakan:

“Jalan menuju Allah itu begitu banyak, sebanyak nafas makhluk”.


Tak perlu kita merasa bahwa cara beribadah kita atau kelompok kitalah yang benar atau paling benar, lalu berusaha memahamkan orang lain dan diterapkan oleh orang lain. Baju yang kita pakai belum tentu pas di badan orang lain, begitupula keyakinan, kepahaman ataupun cara beribadah,

Di era digital ini begitu mudah dan instan nya ilmu di dapat akan tetapi kita harus waspada dan bisa memilah serta memilih , karena banyak sekali ilmu yang memerlukan pemahaman lebih mendalam dan juga banyak terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang membutuhkan penjelasan lebih detail dari ulama.

Dalam menuntut ilmu jangan sampai bertujuan untuk menunjukkan kekurangan atau kesalahan amal ibadah orang lain. Jangan karena ingin berdebat atau ingin dianggap lebih baik dari orang lain.

Tapi carilah ilmu karena ingin memahami ibadah lebih dalam, Ingin lebih baik dalam Ibadahnya dan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

Jangan terfokus hanya dari satu sumber saja carilah perbandingannya, Jangan taqlid buta hanya mempelajari satu arahan (pendapat) ulama saja tapi kenali dan hargai pendapat lain agar tak ada rasa paling benar dalam diri.

Carilah guru sebanyak mungkin agar ilmu yang kita pelajari bisa lebih di pahami karena sering kali suatu ilmu atau ayat al qur’an atau hadits itu harus di pahami tidak hanya secara harfiah / tekstual saja tapi lebih luas lebih dalam dari itu maknanya baik itu makna lahir maupun makna bathin, tersirat dan tersurat.

Begitupula dengan dakwah, hakikat dari dakwah itu adalah untuk diri sendiri bukan untuk “memperbaiki” orang lain, 
Dakwah itu tak harus mengatakan semua yang kita ketahui atau yang baru kita pelajari, apalagi jika kita kurang memperhatikan adab dalam penyampaiannya.

Imam Ghazali mengingatkan bahwa:
"Dakwah dengan perbuatan itu lebih kuat".

Apalagi kita yang minim adab dan ilmu ini, salah-salah bukan manfaat yang didapat malah akan mendatangkan mudharat. Coba perhatikan dan renungkan bagaimana reaksi orang lain disekitar kita apakah merasa nyaman dengan keberadaan kita? Atau malah membuat mereka risih, menjaga jarak, enggan terlibat jauh dalam pembicaraan bahkan tanpa disadari sering menghindari kita?.

Jadi bagi kita yang pemula ini, yang masih awam dalam memahami agama, masih belajar ngaji, maka utamakanlah dakwah dengan perbuatan, dengan melakukan amalan-amalan baik.

Serukan anjuran-anjuran baik, namun mempersedikit “larangan” yang mungkin mengandung ikhtilaf didalamnya yang belum kita pahami yang bisa membingungkan dan atau memancing perdebatan, bahkan merenggangkan silaturahim.

Dengan Amar ma'ruf maka yang Munkar pun dapat dijauhkan. Ini jauh lebih “aman” dan baik bagi kita yang miskin ilmu dan adab ini.




Ingin Terlihat Telah Hijrah
Setelah hijrah sering kali ada perasaan ingin diketahui semua orang bahwa kita telah hijrah, menjadi baik, kita sudah melaksanakan beragam amal ibadah, ataupun memiliki rasa bangga dan ingin menonjolkan penampilan dan cara ibadah kita yang berbeda dari kalangan umum.

Misalkan kita berusaha berpakaian La Isbal (tidak melebihi mata kaki) tapi mengesampingkan hakekat la isbal itu sendiri. la isbal sendiri hakekatnya adalah agar kita tidak menjadi orang yang sombong, dan berpakaian dengan tidak melebihi mata kaki (untuk laki-laki) adalah salah satu upaya agar:
lahiryah kita mengingatkan pada bathiniyah kita untuk tidak menjadi pribadi yang sombong.

Bukan malah sebaliknya menghadirkan rasa ujub dalam diri karena sudah bisa “nyunnah” dan memandang rendah orang lain yang belum seperti kita. 

Kalangan mazhab 4 pun tidak ada yang mewajibkannya karena hukumnya sunnah, jadi tak perlu menganggap orang yang isbal itu melakukan suatu hal yang subhat bahkan haram, tapi jadikanlah la isbal itu sebagai pengingat untuk hati kita agar menjauhkan penyakit hati seperti riya dan ujub.

 




Contoh lain yang dapat merusak hijrah hati kita adalah keinginan untuk berbeda dalam penggunaan istilah -arab- agar terlihat keren atau islami. Memang tidak ada salahnya bahkan terkadang lebih Afdol (Lebih utama ) menggunakan istilah tersebut, tapi yang harus jadi perhatian adalah niat yang terkandung didalamnya, situasi kondisi serta maksudnya dan tujuannya tersampaikan atau tidak jangan sampai salah kaprah.

Banyak yang tidak sadar dalam hal2 tersebut sebetulnya tidak semuanya "islami" tapi  adalah murni bahasa arab.


Lain halnya dengan hal yang telah lazim dipahami oleh semua orang seperti ucapan istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun) akan jauh lebih baik daripada kita menyebut artinya / terjemahannya yang malah akan mengakibatkan gagal paham.


Imam Ali berkata : "Berbicaralah kepada orang lain dengan bahasa yang mereka pahami"


Jadi sahabat, marilah kita Hijrah Lahir dan Bathinnya agar kita dijauhkan dari penyakit bathin, dari sifat-sifat yang dapat mengurangi bahkan menghapus nilai ibadah kita, agar Allah senantiasa membimbing kita dalam jalan yang di ridhoi-Nya dan melanggeng hidayah dalam diri kita. tetap semangat dan selalu hijrah sampai hembusan nafas terakhir kita.

 

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatu.

 

Sumber : Berbagai sumber

 


Senin, 01 Juli 2019

Tipu Daya Syetan & Hawa Nafsu





TIPU DAYA SYETAN DAN HAWA NAFSU


Penyakit yang paling berbahaya bagi orang yang banyak beribadah, beramal , bersedekah, berdakwah, rajin menuntut ilmu bahkan Ulama adalah ghurur.Penyakit ini sulit terdeteksi oleh diri sendiri dan kebanyakan orang yang menderita penyakit ini tidak akan merasakannya.


Ghurur adalah  tipu daya syetan dan hawa nafsu yang membuat manusia terpedaya,  sedangkan menurut istilah adalah Merasa bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang tidak dirasakan atau dimiliki orang lain.


Syetan mungkin tidak akan begitu bersusah payah menggoda orang kafir, namun terhadap seorang muslim mereka akan berusaha sekuat tenaga agar menjadi pengikutnya, mereka menggoda orang yang lemah imannya dengan maksiat-maksiat sehingga menjauhkannya dari beribadah kepada Allah SWT, dan terhadap sebagian muslim yang menjauhi maksiat dan menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, syetan menggodanya melalui bisikan-bisikan seakan-akan orang tersebut merasa dirinya lebih baik dari orang lain.

  



Berikut adalah beberapa ciri seseorang terkena penyakit ini agar dapat kita waspadai:

·       Merasa diri lebih baik dari orang lain

·       Merasa lebih banyak beribadah dari orang lain

·       Banyak beribadah tetapi tidak banyak bertaubat

·       Merasa dosanya sedikit bahkan hampir sudah tidak ada

·       Merasa lebih banyak beramal dari orang lain

·       Bangga dengan amal yang telah dilakukan

·       Merasa bahwa amalnya telah sempurna

·       Tidak berusaha mengetahui hal-hal yang dapat merusak bahkan tidak diterimanya amal.

·       Memperbaiki amal agar tidak dicela manusia

·       Ingin diingat orang ketika beramal

·       Menunda-nunda amal dengan beranggapan masih banyak waktu

· Tergesa-gesa dalam beramal karena ingin mengerjakan amal yang lain sehingga mengabaikan perbaikan kualitas amal

·       Senang dipandang sebagai orang sholeh

·       Merasa paling mengetahui diantara yang lain

·       Bertambah ilmu akan tetapi amalnya tak bertambah

·       Merasa paling benar dan enggan menerima kebenaran dari yang lain meski hati kecilnya menerima.

·       Mudah memandang rendah orang lain

·       Mudah berburuk sangka terhadap orang lain

·       Senang melihat kekurangan orang lain terutama dalam hal ibadah atau amal baik

·       Mengutamakan ibadah lahir saja tanpa memperhatikan dengan sungguh-sungguh ibadah bathin seperti Ikhlas, tawakal, menjauhi riya ujub dll

·       Berderma tetapi terbersit riya bahkan ada yang jelas-jelas ke-Riyaannya

·       Merasa sudah bersih dari penyakit hati

·       Tidak berusaha sekuat tenaga menghilangkan penyakit hatinya

·  Tidak berusaha sekuat tenaga menghilangkan riya dan kesombongan dalam hatinya meski sekecil apapun

· Merasa telah terbebas dari riya/ syirik kahfi dan tidak berusaha sekuat tenaga menghalaunya

·   Beramal dengan harta yg di dapat secara dzalim dengan beranggapan akan bersih dengan bersedekah dan amalan baik lainnya,  

·   Berlebihan dalam beramal hingga mungkin ia  mengabaikan tetangganya yg fakir atau membuat org tidak khusyu dlm beribadah.

·       Dan lain sebagainya…

·       

 

Penyakit Ghurur ini erat kaitannya dengan penyakit hati yang dapat melanda umat muslim. maka dari itu menjaga kesucian bathin, kebersihan hati sangatlah penting.

 

Referensi : (Imam Ghazali-Minhajul Abidin), dll..

 

 

 


Minggu, 12 Mei 2019

PERBEDAAN ADALAH RAHMAT

 


Memahami Perbedaan Menghindari Perselisihan


Yuk belajar memahami perbedaan / khilafiyah, agar perselisihan dapat dihindari karena adanya kesalahpahaman, ketidaktahuan bahkan kesombongan dari diri dan hati kita yang bisa menjauhkan ridho illahi karena sifat “ana khairu minhu”, sifat merasa lebih baik, lebih benar dan atau lebih tahu  dari orang lain, ntah itu dalam iman, ilmu dan amal kita.


Didalam sumber hukum islam  Al qur’an dan al hadits, ada 2 sandaran dalil yang penting kita ketahui makna dan pemahamannya


Yang pertama adalah Teks Qathi’y

Yaitu teks-teks yang pasti

yang disepakati seluruh ulama karena keterangannya jelas dan tidak ada keraguan dan perbedaan di dalamnya.


Contohnya adalah :

Sholat Subuh itu 2 rakaat, Berpuasa itu di bulan ramadhan, Berwudhu adalah salah satu syarat sahnya sholat dll


dan apabila ada perbedaan tentang hal itu maka dipastikan melenceng/keluar dr hukum / syareat islam karena teks Qathiy adalah sandaran Syariah


Yang Kedua : Teks Dzanniy,

Yaitu teks-teks yang belum atau tidak pasti.


Yang  didalamnya masih ada ruang untuk dipahami secara berbeda, multi tafsir dan atau mengandung cara pandang yang bisa saja lebih dari satu.

karena memang keterangan nya belum/tidak jelas. 

dan ini adalah ruang Ijtihad para ulama mujtahid sesuai tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam,.

Contoh teks dzaniy adalah :

Tata cara sholat ,  wudhu,  Hal yang membatalkan sholat, wudhu,Masuknya bulan ramadhan dll


Dalam teks-teks dzanniy inilah para ulama fiqih bekerja, meneliti, menganalisa, lalu lahirlah Mazhab-Mazhab yang ada seperti sekarang ini


Seorang ulama pernah mengkaji bahwasannya di dalam sholat saja terdapat lebih dari 200 perbedaan,  bukan hanya dalam hal yang sunnah saja akan tetapi fardhu sholat juga,


Misalnya dalam Mazhab Hambali, membaca tasbih dalam ruku dan sujud hukumnya wajib dan menyebabkan sholat tidak sah apabila tidak dibaca, akan tetapi dalam mazhab syafii, hambali dan hanafi hal tersebut adalah sunnah, tidak membacapun sholat tetap sah.


Persentuhan kulit laki-laki dan wanita dalam mazhab syafii dan hambali membatalkan wudhu tapi tidak dalam mazhab maliki dan hanafi (kecuali dalam kondisi tertentu)


dalam mazhab syafii menyentuh qubul dan dubur selama bukan oleh bathin tangan tidak membatalkan wudhu, mazhab hanafi : tidak, mazhab maliki: batal hanya oleh telapak tangan dan sisinya

dan lain sebagainya....


Masih banyak perbedaan pemahaman atau teks-teks dzaniy lainnya yang menjadikan khazanah Ilmu islam itu begitu kaya, luas dan dalam. Semua itu dirangkum dalam kitab-kitab para ulama mujtahid yang kemudian disebut mazhab (fiqih).


Dizaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak ada mazhab karena hal yang Dzaniy tersebut bisa ditanyakan langsung kepada Beliau.

4 mazhab besar (Hanafi, Maliki,Syafii dan Hambali) lahir di era 300 tahun setelah masa kenabian yang disebut Rasulullah sebagai kurun waktu generasi terbaik.


Kaidah para ulama mazhab adalah “Pendapatku benar akan tetapi berkemungkinan salah, dan pendapat yang lain salah akan tetapi berkemungkinan benar”.


Inilah yang mendasari umat islam yang paham akan luasnya ilmu islam melahirkan sifat tawadhu, menyadari bahwasannya kebenaran itu acapkali tidak hanya melalui satu jalan saja akan tetapi bisa melalui banyak jalan.


Semoga dengan memahami perbedaan/khilafiyah tersebut menjadikan umat islam dapat bersatu dalam akidah, berjamaah dalam ibadah, toleransi dalam khilafiyah dan bersama sama dalam dakwah


Wallohu’alam bishowab